Buntut Tragedi Kanjuruhan, Kapolres Malang Dicopot/polri.go.id

Pasca tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, polisi mulai melakukan penyelidikan. Ada beberapa orang yang diminta untuk bertanggung jawab bahkan sampai dicopot jabatannya, termasuk Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat dan 9 orang lain dari Brimob Jawa Timur.

“Keputusan pencopotan jabatan AKBP Ferli Hidayat ini diambil langsung oleh Kapolri setelah mendapatkan hasil analisis dan evaluasi tim investigasi khusus tragedi Stadion Kanjuruhan. Tim ini dibentuk langsung oleh Kapolri,” ujar Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo.

Akibat pencopotan jabatan ini, AKBP Ferli Hidayat yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Malang saat ini dimutasi sebagai Pamen SSDM (Staf Sumber Daya Manusia) Polri. Selain AKBP Ferli ada 9 orang dari Brimob Jawa Timur yang juga dicopot jabatannya karena tragedi tersebut. 9 orang anggota Brimob yang dicopot jabatannya tersebut diduga melakukan pelanggaran kode etik.

Sebelumnya, banyak beredar berita mengenai AKBP Ferli Hidayat yang diduga memerintahkan penggunaan gas air mata untuk membubarkan massa di Stadion Kanjuruhan. Namun hal tersebut dibantah oleh Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Albertus Wahyurudhanto. 

“Tidak pernah ada perintah dari Kapolres Malang untuk melakukan penguraian massa menggunakan gas air mata. Bahkan lima jam sebelumnya saat pelaksanaan apel, AKBP Firli sudah melarang penggunaan gas air mata jika ada kerusuhan. Dari sini kami melihat pihak kepolisian sudah melakukan upaya preventif,” ujar Wahyu.

Wahyu menambahkan, penembakan gas air mata itu menjadi faktor banyaknya korban yang berjatuhan saat terjadi kerusuhan. Namun ia mengatakan pada saat kejadian AKBP Firli sedang berada di luar stadion, jadi sampai saat ini pihaknya masih menelusuri siapa yang memberi perintah penembakan gas air mata tersebut.

Selain Kapolres Malang, Beberapa Saksi Ini Akan Diperiksa

Selain pencopotan jabatan Kapolres Malang, pihak kepolisian saat ini sudah meningkatkan kasus dari penyelidikan menjadi penyidikan. Adapun hal tersebut terjadi karena pihak kepolisian sudah memeriksa 29 orang saksi. 29 orang tersebut terdiri dari 23 anggota dan 6 orang saksi yang ada di lokasi kejadian.

“Saksi yang diperiksa adalah saksi dari petugas, panitia penyelenggara, maupun masyarakat yang ada di sekitar TKP. Materi pemeriksaan meliputi hal-hal teknis seperti persiapan penyelenggaraan pertandingan, pengamanan, maupun rencana emergency,” ujar Irjen Pol Dedi Prasetyo.

Selain memeriksa saksi, kepolisian juga memeriksa CCTV yang berada di lokasi. Titik CCTV yang diperiksa adalah CCTV di pintu 3, 9, 10, 11, 12, dan 13. Pihak kepolisian juga memeriksa tetesan darah yang ada pada pintu 11 hingga pintu 13 dengan metode scientific investigation untuk mengecek akurasi dan keaslian.

Baca juga: Tragedi Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang

Penulis: Serafina Indah

Editor: Sebastian Simbolon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini