Ilustrasi Vaksin Covid-19 Nusantara/unsplash.com

Untuk menanggapi pemberitaan mengenai vaksin Nusantara, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid menjelaskan bahwa vaksin Nusantara dapat diakses oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian secara terbatas.

“Masyarakat yang menginginkan vaksin Nusantara atas keinginan pribadi nantinya akan diberikan penjelasan terkait manfaat hingga efek sampingnya oleh pihak peneliti. Kemudian, jika pasien tersebut setuju, maka vaksin Nusantara baru dapat diberikan atas dasar persetujuan pasien tersebut,” ujar dr. Nadia.

dr. Nadia juga menegaskan bahwa vaksin Nusantara tidak dapat dikomersialkan karena bersifat autologus atau bersifat individual. Artinya, materi yang digunakan dari diri kita sendiri dan untuk kita sendiri. Jadi produk hanya dapat digunakan untuk diri pasien sendiri, tidak dapat dipergunakan untuk orang lain.

Serba-Serbi Vaksin Nusantara

Vaksin Nusantara merupakan vaksin usulan yang dibuat oleh eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Pengadaan vaksin ini sempat menjadi sebuah kontroversi ketika uji klinis vaksin tersebut dilakukan tanpa mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam uji klinis pertama pada Januari 2021, hasilnya dari BPOM menunjukkan bahwa vaksin Nusantara belum dapat lanjut ke uji klinis selanjutnya karena tidak memenuhi proof of concept. Dalam uji klinis pertama tersebut, BPOM melaporkan adanya beberapa efek yang ditimbulkan kepada relawan uji klinis setelah menerima suntikan vaksin Nusantara.

  1. 71,4% subjek mengalami KTD (Kejadian Tidak Diinginkan) seperti nyeri lokal, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, petechiae (ruam pada kulit), lemas, mual, demam, batuk, dan pilek.
  2. Enam relawan mengalami KTD grade tiga. Satu relawan mengalami hipernatremia atau konsentrasi natrium yang tinggi dalam darah (gejala seperti orang kekurangan air minum) dan tiga subjek mengalami peningkatan kolesterol.

Namun vaksin tersebut nekat melalui uji klinis kedua pada 14 April 2021 tanpa izin BPOM. Pelaksanaan uji coba dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Sampel penelitian tersebut adalah beberapa anggota dewan seperti Aburizal Bakrie dan Adian Napitupulu.

Setelah melewati uji klinis kedua pada 14 April 2021, akhirnya Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, dan Kepala BPOM Penny K. Lukito menandatangani nota kesepahaman tentang “Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2” di Markas Besar TNI AD pada 19 April 2021.

“Dengan adanya kesepahaman antara Menkes, KSAD, dan Kepala BPOM maka akan terjadi pemindahan program kegiatan penelitian. Yang semula berada dalam platform penelitian vaksin dan berada dibawah pengawasan BPOM, sekarang dialihkan ke penelitian berbasis pelayanan yang pengawasannya di bawah Kementerian Kesehatan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy.

Diketahui bahwa vaksin Nusantara memakai sel dendritik yang sering dipakai untuk pengobatan kanker. Dalam dunia kedokteran, sel dendritik adalah sel imun yang terbentuk di luar tubuh dengan antigen khusus. Untuk vaksin Nusantara sendiri, antigennya merupakan produksi perusahaan Amerika Serikat yaitu Lake Pharma. 

Penulis: Serafina Indah Chrisanti

Editor: Sebastian Simbolon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini