Ilustrasi Obat Sirup/rsnas.kulonprogokab.go.id

Pasca kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak di Gambia dan menyebabkan kematian, Kementerian Kesehatan bergerak cepat untuk melakukan pencegahan. Salah satunya adalah dengan meminta masyarakat Indonesia menghentikan sementara penggunaan obat sirup selama sedang diteliti oleh Kemenkes dan BPOM.

Hingga akhirnya pada 20 Oktober 2022, BPOM RI mengeluarkan siaran pers mengenai hasil pengawasan terhadap obat yang diduga mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DE). Hasilnya, dari 26 sirup obat yang menjadi sampel ada lima obat yang mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) melewati ambang batas aman yaitu:

  1. Termorex Sirup (obat demam), produksi PT. Konimex, kemasan dus, botol plastik @60 ml
  2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT. Yarindo Farmatama, kemasan dus, botol plastik, @60 ml
  3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries, kemasan dus, botol plastik, @60 ml
  4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries, kemasan dus, botol, @60 ml
  5. Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries, kemasan dus, botol, @60 ml

Atas kelima produk sirup obat yang mengandung EG yang melewati ambang batas, BPOM memerintahkan pada industri farmasi terkait untuk melakukan penarikan sirup obat dari peredaran di seluruh Indonesia. Penarikan dilakukan di seluruh apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, dan instalasi farmasi pemerintah. Selain itu juga dilakukan pemusnahan untuk seluruh bets produk.

“Meski begitu hasil uji cemaran EG tersebut belum mendukung kesimpulan bahwa penggunaan obat sirup tersebut memiliki keterkaitan dengan gagal ginjal akut. Selain penggunaan obat, ada beberapa faktor penyebab lain seperti infeksi virus, bakteri Leptospira, dan sindrom peradangan multisistem pasca Covid-19,” ujar BPOM.

Himbauan BPOM Terhadap Penggunaan Obat Sirup

Dengan ditariknya beberapa produk obat tersebut, sementara masyarakat dihimbau untuk tidak menggunakan obat sirup. Jika ada keluhan sakit dan harus membeli obat, dihimbau untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker. BPOM, Kemenkes, dan pihak terkait masih terus meneliti segala faktor kemungkinan penyebab terjadinya gagal ginjal akut.

Selain itu, BPOM juga mengajak masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas dalam membeli obat dengan memperhatikan:

  1. Membeli obat hanya di sarana resmi seperti apotek, toko obat, puskesmas, atau rumah sakit terdekat
  2. Membeli obat secara online hanya dapat dilakukan di apotek yang memiliki izin Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi (PSEF)
  3. Menerapkan cek KLIK yaitu, cek kemasan dalam kondisi baik, cek label, cek izin edar, dan cek kadaluarsa sebelum membeli obat
  4. BPOM terus melakukan patroli siber di situs, media sosial, dan e-commerce untuk menelusuri dan mencegah peredaran obat ilegal

Penulis: Serafina Indah

Editor: Sebastian Simbolon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini