Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air SJY182/skytraxratings.com

Setelah hampir 1,5 tahun berlalu, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akhirnya mengungkap penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya SJY182. Pesawat dengan tujuan Jakarta-Pontianak ini dikabarkan jatuh di Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021. Sayangnya akibat kecelakaan ini, seluruh penumpang dan kru meninggal dunia.

KNKT menyebut investigasi ini dibantu oleh beberapa pihak yang memang diperlukan seperti negara perancang yaitu Amerika Serikat yang diwakilkan National Transportation Safety Board (NTSB) dan dibantu Federal Aviation Administration (FAA) juga Boeing. Selain itu, Singapura dan Inggris juga memberikan bantuan tenaga ahli dalam investigasi ini.

Hasilnya, pesawat Sriwijaya SJY182 diketahui mengalami kecelakaan diakibatkan oleh beberapa hal berikut ini:

  1. Perbaikan Sistem Autothrottle Belum Sampai ke Tahap Mekanikal

Sistem ini harusnya dapat menyeimbangkan thrust level kiri dan thrust level kanan pesawat, namun saat kejadian tersebut sistem autothrottle tidak dapat menggerakkan thrust level kanan akibat gaya gesek dan gangguan pada mekanikal thrust level kanan

  1. Thrust Level Kanan Yang Tidak Sejalan Dengan Thrust Level Kiri

Saat pesawat Sriwijaya SJY182 bergerak naik, pengaturan arah autopilot berubah dari LNAV ke HDG SEL dan disusul perubahan pengaturan vertical jadi V/S dan MCP SPD. Proses ini membutuhkan tenaga mesin yang lebih kecil sehingga pengatur tenaga mesin (thrust level) akan bergerak mundur bersama untuk mengurangi tenaga mesin.

Dalam kasus ini, thrust level kiri bergerak mundur namun thrust level kanan tetap. Sehingga tenaga thrust level kiri lebih kecil daripada thrust level kanan atau disebut asymmetry.

  1. Keterlambatan CTSM Untuk Menonaktifkan Autothrottle

Pesawat dilengkapi Cruise Thrust Split Monitor (CTSM) yang berfungsi menonaktifkan autothrottle jika terjadi asymmetry. Dalam kasus Sriwijaya ini, sistem CTSM terlambat menonaktifkan autothrottle karena flight spoiler memberi informasi yang lebih rendah karena adanya penyetelan. Penyetelan flight spoiler ini sebelumnya disebut belum pernah dilakukan di Indonesia.

  1. Confirmation Bias

Saat kejadian tersebut, pilot Sriwijaya SJY182 tidak menyadari adanya perubahan pada cockpit karena kepercayaan (complacency) terhadap sistem otomatisasi. Saat itu juga terjadi confirmation bias, dimana kemudi terlihat miring ke kanan yang membuat pilot berasumsi pesawat telah belok ke kanan sesuai yang diinginkan sehingga kurang pengawasan pada instrumen dan keadaan lain yang terjadi. Padahal saat itu pesawat telah miring ke kiri dan mendapat peringatan kemiringan berlebih

Selain masalah teknis, KNKT juga menemukan bahwa maskapai belum memiliki aturan dan panduan tentang Upset Prevention and Recovery Training (UPRT). Padahal pelatihan UPRT ini sangat diperlukan untuk menjamin kemampuan dan pengetahuan pilot dalam mencegah dan memulihkan kondisi upset secara efektif dan tepat waktu.

Penulis: Serafina Indah

Editor: Sebastian Simbolon

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini